Larangan Adopsi Anak dicontohkan Langsung Oleh Rasulullah


Tanzilulfurqon.com – Banyak terjadi dimasyarakat seseorang mengangkat anak orang lain diperlakukan  dan dianggap sebagaimana anaknya sendiri. Baik dalam memberikan kasih sayang atau dalam berinetraksi dengan tanpa batas dalam kehidupan sehari hari mereka. Praktik ini juga dikenal dengan istilah adopsi anak.

Biasanya ada beberapa alasan yang melatar belakangi mereka dalam pengangkatan anak, ada yang karena berniat menolong, karena keluarga anak yang diadopsinya dianggap kurang mampu dalam masalah ekonomi, ada juga karena tidak punya keturunan,  sebagian yang lain memiliki kepercayaan, bahwa  seseorang yang usia pernikahannya lama, namun belum dikasih keturunan, makan untuk memancing kehamilan pertamanya, adalah dengan mengangkat anak orang lain. Dan mungkin saja masih ada penyebab lainnya, sehingga mereka memutuskan untuk mengadopsi anak.

Pada praktiknya, tak jarang dijumpai dalam permasalan adopsi anak ini, dibarengi dengan pengikut sertaan anak angkat dimasukkan kedalam daftar nasab keluarganya. Sehingga anak angkat dinisbatkankan pada orang tua angkatnya, yakni anak itu ber-Bin pada orang yang bukan orangn tua biologisnya. Serta nasab anak pada orang tua kandungnya seakan hilang terputus. Bahkan, terkadang sang anak ini tidak mengenal sama sekali pada orang tua dan keluarga aslinya.

Pada saatnya, setelah anak ini dewasa, kemungkinan besar,  akan terjadi sesuatu yang semestinya melibatkan orang tua aslinya, namun digantikan oleh orang tua angkatnya, Walau pun harus menabrak larangan hukum Syariat Islam. Seperti ayah angkat menjadi wali dari pernikahan anak angkat perempuannya,  akan banyak lagi  ditemukan hal hal lain yang justru akan berdampak negatif bagi mereka. Seperti bersalaman lain jenis antara anak angkat dan  orang tua angkatnya tanpa sedikitpun merasa berdosa. Dan masih banyak dampak buruk lainnya.

Lalu sebenarnya bagaimana Syari'at Islam memandang praktik pengangkatan anak atau yang juga dikenal dengan Adopsi anak ini?

Budaya adopsi  anak dan penisbatan nasab anak angkat, kedalam nasab keluarga orag tua angkatnya, ini sudah menjadi budaya bangsa arab terdahulu sebelum terutusnya Nabi Muhammad SAW sebagai Rusul. Kala itu orang arab yang mengangkat seorang anak, akan memperlakukannya persis seperti anak kandungnya sendiri, dalam segala hal.

Sebagaimana dikisahkan dalam kitab Khalashoh  Nurul Yakin juz 2, karangan Syekh Abdul Jabbar berjudul ابطال التبني atau pembatalan adopsi anak. Bahwa Rusulullah saw. mengangkat seorang anak bekas  budak yang telah beliau merdekaan, bernama Zaid Bin Haristah. Rasulullah menganggap Zaid sebagaimana putranya sendiri, Bahkan Nabi menyertakan Nama Zaid kedalam daftar nasab beliau. Sehingga Zaid dikenal dengan nama Zaid bin Muhammad. dan penamaan Zaid Bin Muahammad ini diumumkan langsung oleh Nabi Muhammad pada Masyarakat kala itu.

Kisah Rasulullah ini menandakan bahwa di awal awal Islam, menyandarkan nasab anak angkat terhadap orang tua angkatnya bukanlah sesuatu hal yang dilarang. Namun pada kemudian hari Allah membatalkan kebolehan praktik adopsi anak ini, dengan sangat jelas dan mengabadikan larangan itu dalan Al-Qur'an. Larangan ini dicontohkan langsung pada Rasulullah saw. dengan Zaid  anak angkat beliau, Melalui perintah Allah swa. kepada Nabi Muhammad untuk menikahi Zainab binta Jahsy, bekas istri Zaid yang merupakan anak angkat Nabi.

Allah berfiman 

فَلَمَّا قَضَى زَيْدٌ مِنْهَا وَطَرًا زَوَّجْنَاكَهَا لِكَيْ لَا يَكُونَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ حَرَجٌ فِي أَزْوَاجِ أَدْعِيَائِهِمْ إِذَا قَضَوْا مِنْهُنَّ وَطَرًا وَكَانَ أَمْرُ اللَّهِ مَفْعُولًا (سورة الأحزاب: 37)
"Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap isterinya (menceraikannya), Kami kawinkan kamu dengan dia supaya tidak ada keberatan bagi orang mu'min untuk (mengawini) isteri-isteri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya daripada isterinya. Dan adalah ketetapan Allah itu pasti terjadi”. (QS. al Ahzab: 37)

Potongan ayat 37 dari surat Al Ahzab ini mempertegas bahwa antara anak angkat dan orang tua angkat sama sekali tidak ada hubungan nasab, terbukti dengan diperintahkannya Rasulullah menikahi Ummul Mu'miniin Zainab binta Jahsy, bekas istri dari anak angkatnya sendiri, dan dalam ayat itu, tidak hanya Rasulullah yang diperbolehkan untuk menikahi bekas istri anak angkatnya, tapi semua orang mu'min boleh melakukannya.

Sebelum turunnya ayat ini, beberapa kali Zaid mendatangi Rasulullah untuk mengadu prihal huru hara keluarganya, hasil dari pernikahan tidak seimbang ( tidak kufu') antara dirinya dan Zainab. di hadapan Zaid, Zainab selalu membangga banggakan keluhuran nasab keluarganya, kecantikan yang dimilikimya, sedangkan Zaid hanyalah seorang mantan budak. Hal ini yang menyebakan Zaid merasa posisinya sebagai suami direndahkan dan meminta pertibangan kepada Rasulullah, karena Zaid mengganggap Nabi sebagai ayahnya sendiri.

Namun Rasulullah memberi saran pada Zaid, agar bersabar atas kekurang baikan Zainab dalam bersikap terhadapbya, serta tidak terburu buru untuk menceraikanny hanya karena zainab mengunggul unggulkan nasab keturunannya, Nabi menasehati Zaid Agar selalu takut kepada Allah dalam menghadapi masalah yang sedang dihadapinya. 

Namun, bersamaan dengan pengaduan Zaid prihal problema rumah tangganya dengan Zainab. Sbenarnya Rusullullah sudah mendengar bocoran dari malaikat Jibril bahwa setelah Zaid menceraikan Zainab,  Allah memerintah Nabi Muhammad untuk menikahi Zainab. Namun, Rasulullah menyembunyikan hal ini dari Zaid dan juga pada orang lain, karena Nabi merasa malu, khawatir orang orang mencibirnya dengan mengatakan "Muhammad Mengambil Istri anaknya sendiri". 

Maka turunnlah ayat 37 dari surat Al-Ahzab,  sebagai peringatan pada Rasulullah, agar tidak merasa malu mengutarakan isi perintah Allah untuk menikahi Zainab, dan ayat ini juga untuk mempertegas larangan pengangkatan anak yang dinisbatkan pada orang tua angkatnya. 

Maka, setelah Zaid datang terakhir kalinya pada Rasulullah, dengan tujuan untuk menceraikan Zaibab, lalu Nabi mengizini Zaid untuk menceraikan Zainab, Lalu Nabi menikahinya setelah Zainab melakukan Iddah. 

Setelah itu, turun ayat lagi, yang memperkuat pelepasan nisbat nama Zaid pada Rasulullah 

 مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَٰكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ ۗ وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا
"Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." (QS. al Ahzab: 40)

Maka, sejak saat itu, nama Zaid berubah menjadi Zaid Bin Haritsah, sebagai ganti dari nama sebelumnya, yang dikenal dengan sebutan Zaid Bin Muhammad. Dari peristiwa antara Nabi, Zaid dan Zainab inilah,  larangang mengadopsi anak menjadi sangat jelas dan paten dalam hukum syari'at Islam.

Dengan demikian, maka menjadi boleh antara anak angkat dan orang tua angkat, apa yang diperbolehkan oleh syara' pada selain mahrom. Seperti diperbolehkan bapak angkat menikahi bekas istri anak angkatnya, atau bekas menantu laki laki menikahi bekas ibu mertua angkatnya,  bahkan boleh terjadi pernikahan antara anak angkat dan orang tua angkatnya, karena antara keduanya tidak terikat nasab. 

Dan juga menjadi berhukum haram antara anak angkat dan orang tua angkatnya, apa yang diharamkan oleh sya'ra' dilakukan pada selain mahromnya, seperti diharamkan bersentuhan antara anak angkat perempuan dengan ayah angkatnya, atau anak angkat laki laki dengan ibu angkatnya, berduan antara keduanya, saling melihat auratnya, dan bersentuhan lain jenis, dapat menghilangkan hadats antara Mereka (batal Whudlunya), serta tidak berhak bagi anak angkat mendapatkan warisan dari orang tua angkatnya.

Wallahu A'lamu.

Sumber:
خلاصة نوراليقين ، لشيخ عبد الجبار، جز ٢

مراح لبيد لكشف معنى القرآن المجيد المؤلف:لشيخ محمد بن عمر نووي الجاوي البنتني



Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel